Sosok Pangeran Mohammad Bin Salman, Penyegaran Arab Saudi atau Pemimpin Otoriter?

Abyan Faisal Putratama
5 min readMar 12, 2020

Pangeran Arab Saudi, Muhammad Bin Salman atau yang akrab disapa MbS, kerap kali menjadi sorotan media-media maupun negara-negara di dunia. Hal ini tak terlepas dari kebijakannya yang out of the box.

Beberapa gebrakan kebijakan yang dianggap memberikan angin segar bagi kebebasan hidup masyarakar Arab Saudi, terutama perempuan telah dilakukan olehnya sejak penunjukkan dirinya menjadi Pangeran sejak 2017.

Contoh kebijakan-kebijakan itu meliputi: memperbolehkan wanita untuk membuat visa tanpa persetujuan relatif atau suaminya, pintu masuk ke restoran yang berbeda antara perempuan dan laki-laki ditiadakan, kembali dibukanya bioskop sejak tahun 1980, perempuan diperbolehkan menyetir, dan masih banyak lainnya.

Meski begitu, dibalik penyegeran kebijakan di negaranya, kenyataannya sosok MbS sendiri acap kali dilihat sebagai pemimpin yang ‘tangan besi’ karena keputusan kontroversial yang diambil oleh dirinya. Kontroversi yang meliputi dirinya ini menyeruak pada tahun 2018 lalu.

Di mana, dirinya dituduh menjadi otak pembunuhan jurnalis asal Arab Saudi, Jamal Khashoggi, yang dibunuh tepatnya pada Oktober 2018 di Konsulat Arab Saudi di Istanbul.

Tidak berhenti sampai di situ, tuduhan membajak ponsel milik bos perusahaan Amazon, Jeff Bezos, hingga yang terbaru menahan pejabat-pejabat politik di pemerintahannya tanpa alasan yang jelas. Beberapa hal itulah, yang membuat sosok pria berusia 34 tahun tersebut selalu menjadi tontonan publik di seluruh dunia.

Pembunuhan Jamal Khasoggi

Jamal Khasoggi adalah wartawan yang telah malang melintang menekuni profesinya sejak lulus dari universitas pada tahun 1985. Ia sendiri terkenal akan pemikirannya yang terbilang progresif mengenai Timur Tengah, Islam, maupun negaranya sendiri, Arab Saudi.

Mengutip BBC, Jamal pernah melakukan wawancara dengan mantan bos Al-Qaeda yang dibunuh oleh tantara Amerika Serikat pada tahun 2011, Osama Bin Laden. Seperti pada tahun 1995 ia bertemu dengan Osama di area pegunungan Tora Bara untuk melaksanakan wawancara.

Di lain sisi, Khasoggi adalah reporter kawakan di Arab Saudi yang terbukti dari kenalannya di lingkungan keluarga kerajaan. Walau kenal dengan relatif kerajaan, tak membuat dirinya ‘lembut’ dalam menuliskan berita terkait kebijakan-kebijakan yang dinilai merugikan.

Hasil dari kritisnya ini, membuat dirinya harus keluar dari pekerjaan sebagai penulis di koran Al-Watan pada tahub 2003 dan 2010. Puncaknya, pada 8 September 2017, dia harus meninggalkan tanah kelahirannya imbas kritikannya yang tajam kepada pemerintahan Arab Saudi.

Setelah itu, ia juga pernah menjadi kolumnis di Washington Post dan juga vokal terhadap kebijakan yang dibuat oleh Pangeran MbS, sebelum dirinya terbunuh pada insiden Oktober 2018 lalu.

Mengutip The Guardian, dirinya menghilang pada 2 Oktober 2018, setelah mantan kolumnis Washington Post ini menyambangi Konsulat Arab Saudi di Istanbul, Turki. Kunjungan tersebut dilakukan Jamal untuk mengambil beberapa dokumen, agar dirinya bisa menikahi tunangannya asal Turki, Hatice Cengiz.

Awal terkuaknya jamal hilang sendiri berasal dari laporan tunangannya kepada kepolisian setempat karena Jamal tak kunjung memberikan kabar.

Keesokan harinya, Pemerintah Arab Saudi mengklaim Khasoggi hilang setelah meninggalkan Konsulat pada hari sebelumnya. Pernyataan ini sendiri dibantah oleh Turki.

Pemerintah Turki menyebut, Jamal masih berada di dalam Gedung Konsulat. Pada 7 Oktober, Pemerintah Turki, mengatakan bahwa ada 15 orang yang tiba dari Arab Saudi pada 29 September dan hadir di Gedung Konsulat saat menghilangnya jurnalis asal Arab Saudi tersebut. Orang-orang tersebut diduga kuat adalah komplotan pelaku lapangan yang membunuh Jamal Khasoggi.

Beberapa hari kemudian, Trump menginisiasi investigasi terhadap menghilangnya Jamal Khasoggi secara misterius pada 11 Oktober. Sehari berselang, Turki membeberkan bahwa terdapat rekaman video maupun suara yang menjadi bukti kuat pembunuhan Jamal Khasoggi.

Setelah serangkaian proses investigasi yang dilakukan Turki, akhirnya pada 19 Oktober, pihak Saudi pun mengaku Jamal telah meninggal. Mereka berkilah, bahwa ia terbunuh saat dirinya “bertarung’ dengan pegawai Saudi. Usai serangkain proses pendalaman, presiden Erdogan membantah klaim dari Arab Saudi, di mana Jamal Khasoggi terbunuh dalam perkelahian.

Dalam kasus ini, 11 orang terdakwa dalam pembunuhan Jamal Khasoggi. Dikesempatan sama, pihak Amerika Serikat juga memberikan sanksi terhadap 17 pejabat asal Arab Saudi.

Tak berhenti di situ, pada 17 November 2018, Washington Post mengungkapkan bahwa, Central Intelligence Agency (CIA), menyebut Pangeran Mohammed Bin Salman (MbS) terseret dalam kasus tersebut. Bahkan, CIA sangat yakin bahwa pembunuhan MbS memiliki keterkaitan dengan tewasnya Jamal Khasoggi.

Dilansir The Washington Post, pernyataan badan intelijen asal negeri Paman Sam tersebut, didasari beberapa hal, seperti sambungan telepon Duta Besar Arab Saudi untuk Amerika, Khalid Bin Salman, yang merupakan adik dari Pangeran Mohammed. Diduga, dalam sambungan telpon tersebut, terjadi percakapan antara adik Mbs dengan Jamal Khasoggi.

Saat itu, Khalid menyuruh Khasoggi untuk pergi ke Kedutaan Arab Saudi di Istanbul, Turki, untuk mengambil beberapa dokumen. Bahkan, Khalid menjanjikan keamanan khasoggi dalam perjalannya ke Istanbul.

Akan tetapi, keterlibatan adik dari Mbs dalam pembunuhan Jamal masih simpang siur. Meski begitu, menurut sumber dari The Washington Post, Khalid sendiri telah menelpon kakaknya.

Juru bicara Kedutaaan Arab Saudi untuk Amerika Serikat, Fatimah Baeshen, membantah tuduhan yang dilayangkan oleh pihak CIA. Ia mengatakan, Khalid tak pernah membicarakan mengenai usulannya kepada Khasoggi untuk pergi ke Isatanbul.

Dikesempatan sama, tuduhan CIA juga didasarkan oleh sosok MbS yang dinilai teliti dalam melihat permasalahan-permasalahan yang terjadi kepada Kerajaan Arab Saudi. “Tidak mungkin hal ini terjadi tanpa pengetahuan dia (MbS) atau keterlibatannya,” ungkap salah satu pejabat di Amerika Serikat yang mengetahui soal penjelasan CIA tersebut.

Tuduhan demi tuduhan kepada Pangeran MbS pun tak kunjung reda. Salah satu pelopor spesial Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) bidang pembunuhan di luar hokum, Agnes Callamard, menegaskan pangeran MbS harus dipertanyakan keterlibatannya “Kematian (Jamal Khasoggi) diluar hukum, di mana Kerajaan Arab Saudi bertanggung jawab” sebut Agnes seperti dikutip dari The Guardian.

Merespons, berbagai tuduhan terhadap dirinya, MbS pun menyatakan dirinya tak bersalah. Tetapi, ia mengaku bertanggung jawab atas pembunuhan yang terjadi terhadap Jamal, sebagai salah satu petinggi Kerajaan.

Pada akhirnya, pada 23 Desember 2019, 8 dari 11 tersangka terbukti bersalah. Bahkan, 5 orang harus menjalani hukuman mati. Walau begitu, semua yang tertangkap adalah pelaku di lapangan, sedangkan aktor intelektual dibalik tewasnya Jamal tak kunjung ketemu. Investigasi terhadap MbS pun mandek. Bahkan, terkesan tak dilanjutkan.

Penangkapan Lawan Politik

Perdebatan mengenai sosok Pangeran Mohammad Bin Salman pun tak berhenti pada kasus pembunuhan Jamal Khasoggi. Sosoknya yang memang sarat akan kontroversi ini juga melakukan perbuatan-perbuatan yang membuat citra dirinya tidak baik, seperti yang terjadi pada tahun 2017.

Mengutip TRT World, ratusan pebisnis dan keluarga Kerajaan Arab Saudi, ditangkap atas perintah darinya, yang diklaimnya sebagai gerakan untuk melawan korupsi. Meski begitu, tak satupun dari mereka yang diberikan dijerat dengan tuntutan resmi. Bahkan, sebagian dari mereka akhirnya dilepaskan karena membayar miliaran dolar Amerika terhadap Kerajaan.

BBC juga sempat memberitakan, bahwa pada 4 November 2017, 200 orang pangeran ditangkap, atas perintah dari MbS. Tak jelas, dasar dari penahanan-penahanan yang dilakukan oleh Mbs tersebut. Namun, hal ini bisa dilihat sebagai strategi yang dilakukan oleh Mbs dalam memuluskan dirinya dalam mengambil kebijakan.

Terbaru, anak dari Raja Salman ini lagi-lagi menahan sejumlah anggota Kerajaan. Kali ini, 3 orang anggota senior ditangkapnya tanpa alasan yang jelas dikutip dari Kumparan yang melansir New York Times. Masing-masing adalah Pangeran Ahmed bin Abdulaziz; keponakan Raja Salman, Pangeran Mohammed bin Nayef; dan adik Nayef, Pangeran Nawaf bin Nayef.

Belum ada pernyataan resmi mengapa 3 orang tersebut ditangkap oleh MbS. Meski begitu, banyak pihak yang meyakini bahwa hal ini dilakukan oleh MbS agar dirinya bisa menjadi Raja Saudi selanjutnya.

Diduga, Pangeran Ahmed bin Abdulaziz adalah saingan terberat bagi MbS jika ingin menaiki kursi Raja. Hal inilah yang kemudian membuat orang banyak berspekulasi atas penangkapan mereka.

Atas dasar-dasar tersebut, tak ayal jika Pangeran Mbs disebut-sebut sebagai sosok yang ‘kejam’.

Pada akhirnya, apakah kebijakan-kebijakan yang dibuatnya, yang terlihat sebagai langkah kebebasan bagi hak-hak kaum perempuan maupun masyarakat lainnya adalah cara baginya untuk menyembunyikan agenda-agenda terselubung yang sedang ia rencanakan dan langkah bagi dirinya untuk menghilangkan sosok otoriter yang tersemat pada kepemimpinannya?

--

--